PEMBUATAN SKRIPSI MURAH SATU JUTAAN SAMPAI SELESAI

PEMBUATAN SKRIPSI MURAH SATU JUTAAN SAMPAI SELESAI
JASA PEMBUATAN SKRIPSI MURAH satu jutaan...........................!

Jumat, 16 Maret 2012

Beberapa Studi Kasus dalam Penelitian Pendidikan

Abstrak: Beberapa studi kasus dalam penelitian pendidikan bahasa dapat dikaji dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif pada aspek studi kasus penelitian pendidikan bahasa terdapat dalam keterampilan berbahasa, kebahasaan, dan sastra serta pembelajarannya. Karakteristik pembelejaran dengan metode kasus, yaitu menekankan pada analisis situasional, pentingnya menghubungkan antara analisis dan tindakan, perlunya keterlibatan mahasiswa, peran pengajar yang tidak tradisional, dan suatu keseimbangan antara sasaran-sasaran substansi dan proses pembelajaran.Tujuan yang dapat dicapai dari pembelajaran dengan menggunakan metode kasus adalah memungkinkan menggabungkan teori dan praktik dalam proses pembelajaran, memungkinkan mahasiswa belajar pengalaman dari tangan pertama dari pelaku kasusnya, memungkinkan mentransfer managerial wisdow ke dalam ruang kelas, memungkinkan mahasiswa mengembangkan sense of judgement mereka, memahami praktik pembelajaran sesungguhnya dengan cara yang efisien, meningkatkan komunikasi mahasiswa, melatih mahasiswa berpikir secara konstruktif, dan mendorong mahasiswa mempunyai kemampuan sintesa dan evaluasi. Adapun tujuan penelitian pendidikan/pengajaran bahasa, yaitu a. menemukan dan mengembangkan teori, model, atau strategi baru dalam pendidikan/pembelajaran bahasa; b. menerapkan, menguji, dan mengevaluasi kemampuan teori, model, strategi pendidikan/pengajaran bahasa dalam memecahkan masalah pendidikan/pembelajaran bahasa; c. mendeskripsikan dan menjelaskan keadaan atau hubungan berbagai isu atau pikiran yang terkait dengan masalah bahasa. d. memecahkan masalah pendidikan/pembelajaran bahasa; e. menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah pendidikan/pembelajaran bahasa; f. membuat keputusan atau kebijakan mengenai pendidikan/pembelajaran bahasa.
I. Pendahuluan
Pelaksanakan proses pendidikan yang berkualitas memerlukan keputusan-keputusan profesional. Keputusan tersebut sangat penting sebab akan berpengaruh dalam jangka pendek maupun jangka panjang terhadap siswa, orang tua siswa, dan masyarakat. Keputusan tersebut dapat berupa diantaranya penerapan kurikulum, sarpras, model, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Sebagai contoh, untuk meningkatkan motivasi siswa, peneliti harus membuat keputusan tentang upaya yang tepat dilakukan guru, orang tua siswa, dan lingkungan sekitar siswa. Hasil penelitian DeRita dan Weaver (1991) dapat memutuskan bahwa guru dapat memberikaan strategi drama untuk meningkatkan motivasi membaca siswa. Di samping itu, orang tua hendaknya memberikan fasilitas memadai serta model yang mendukung peningkatan motivasi membaca siswa. Masyarakat sekitar sangat efektif dalam memberikan suasana kondusif bagi peningkatan motivasi membaca siswa. Masyarakat sekitar sangat efektif dalam memberikan suasana kondusif bagi peningkatan motivasi membaca siswa dengan didirikannya rumah baca atau sanggar baca.
Sebagian besar pendidik membuat keputusan berdasarkan pada beberapa sumber, misalnya pengalaman pribadi, pendapat ahli, pendapat umum, intuisi, dan akal sehatnya untuk memutuskan sesuatu. Berbagai sumber tersebut dapat saja digunakan dalam membuat keputusan, tetapi keputusan yang diambil berdasarkan penelitian ilmiah adalah yang paling tepat.
Lingkungan masyarakat, kelompok profesional, organisasi masyarakat, memerlukan studi khusus untuk menentukan kebijakan dalam kegiatannya. Sebagai contoh, kelompok direksi membutuhkan strategi mewicara yang tepat agar gagasannya dapat dimengerti dan dilaksanakan oleh anggota yang dipimpinnya.
Sebagian dari penentu kebijakan lebih menyenangi penelitian yang berdasarkan pada informasi yang berselaras dengan masalah kebijakan tertentu. Sebagai contoh, penelitian dibutuhkan untuk menentukan standar kebahasaan dan penilaian kebahasaan. Valencia & Wixson (2000) menjelaskan berbagai kemungkinan penelitian sekait dengan hal tersebut, di antaranya perilaku berbahasa siswa, deskripsi prestasi berbahasa siswa, dan penelaahan pokok-pokok bahasan bahasa.
Pentingnya penelitian pendidikan bahasa dapat dilihat berdasarkan fungsi dan penggunaan jenis penelitian pendidikan bahasa, yaitu (1) Fungsi penelitian dasar, yaitu untuk menguji teori dengan sedikit atau tanpa aplikasi hasil penelitian pada masalah praktis. Secara khusus berkenaan dengan mengetahui, menerangkan, dan memperkirakan fenomena alam dan sosial, penelitian dapat dimulai dengan satu teori, prinsip dasar, atau suatu generalisasi. (2) Fungsi terapan, yaitu untuk suatu bidang praktik dan berkenaan dengan aplikasi pengetahuan berdasarkan riset mengenai praktik tersebut. (3) Fungsi evaluasi, menilai kebaikan, kelayakan atau kebermanfaatan suatu praktik. Praktik yang dievaluasi bisa berupa pelaksanaan program atau penggunaan hasil.
Informasi yang dapat dipercayalah yang diharapkan oleh masyarakat, yaitu informasi dari penelitian. Kegiatan penelitian yang dapat menggambarkan dan mengukur fenomena secara akurat merupakan sumber pengetahuan yang paling baik dibandingkan dengan kebenaran yang didapatkan secara non ilmiah.
Berdasarkan latar belakang makalah di atas, penulis dapat mengidentifikasi beberapa permasalahan dalam makalah ini diantaranya beberapa masalah dalam studi kasus dalam penelitian pendidikan bahasa baik dalam pengajaran bahasa, keterampilan berbahasa, sastra, dan kebahasaannya berdasarkan penelitian kualitatif. Adapun rumusan makalah ini, yaitu begaimana studi kasus dalam penelitian pendidikan bahasa dengan tidak mengabaikan aspek pengajaran bahasa, keterampilan berbahasa, sastra, dan kebahasaannya berdasarkan penelitian kualitatif? Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penulisan makalah ini untuk menggambarkan bebrapa studi kasus dalam penelitian pendidikan bahasa dengan tidak mengabaikan aspek pengajaran bahasa, keterampilan berbahasa, sastra, dan kebahasaan berdasarkan penelitian kualitatif.
II. Pembahasan
A. Pengertian Studi Kasus
Creswell (1998) menjelaskan bahwa suatu penelitian dapat disebut sebagai penelitian studi kasus apabila proses penelitiannya dilakukan secara mendalam dan menyeluruh terhadap kasus yang diteliti, serta mengikuti struktur studi kasus seperti yang dikemukakan oleh Lincoln dan Guba (dalam Heigham dan Croker, 2009), yaitu permasalahan, konteks, isu, dan pelajaran yang dapat diambil. Banyak penelitian yang telah mengikuti struktur tersebut tetapi tidak layak disebut sebagai penelitian studi kasus karena tidak dilakukan secara menyeluruh dan mendalam. Penelitian-penelitian tersebut pada umumnya hanya menggunakan jenis sumber data yang terbatas, tidak menggunakan berbagai sumber data seperti yang disyaratkan dalam penelitian studi kasus sehingga hasilnya tidak mampu mengangkat dan menjelaskan substansi dari kasus yang diteliti secara fundamental dan menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan kehati-hatian dan kecermatan untuk mencantumkan kata ‘studi kasus’ pada judul suatu penelitian, khususnya penelitian kualitatif.
Menurut Yin (2003), kasus sebagai objek penelitian dalam penelitian studi kasus digunakan untuk memberikan contoh pelajaran dari adanya suatu perlakuan dalam konteks tertentu. Kasus yang dipilih dalam penelitian studi kasus harus dapat menunjukkan terjadinya perubahan atau perbedaan yang diakibatkan oleh adanya perilaku terhadap konteks yang diteliti. Menurutnya, penelitian studi kasus pada awalnya bertujuan untuk mengambil lesson learned yang terdapat di balik perubahan yang ada, tetapi banyak penelitian studi kasus yang ternyata mampu menunjukkan adanya perbedaan yang dapat mematahkan teori-teori yang telah mapan, atau menghasilkan teori dan kebenaran yang baru.
Dari sifat kasusnya yang kontemporer, dapat disimpulkan bahwa penelitian studi kasus cenderung bersifat memperbaiki atau memperbaharui teori. Dengan kata lain, penelitian studi kasus berupaya mengangkat teori-teori kotemporer (contemporary theories). Penelitian studi kasus berbeda dengan penelitian grounded theory, phenomenology, dan ethnography yang bertujuan meneliti dan mengangkat teori-teori mapan atau definitif yang terkandung pada objek yang diteliti. (Meyer dalam Wahyono, 2009). Ketiga jenis penelitian tersebut berupaya mengangkat teori secara langsung dari data temuan di lapangan (firsthand data) dan cenderung menghindari pengaruh dari teori yang telah ada. Sementara itu, penelitian studi kasus menggunakan teori yang sudah ada sebagai acuan untuk menentukan posisi hasil penelitian terhadap teori yang ada tersebut. Posisi teori yang dibangun dalam penelitian studi kasus dapat sekadar bersifat memperbaiki, melengkapi, atau menyempurnakan teori yang ada berdasarkan perkembangan dan perubahan fakta terkini.
Seperti halnya Stake (1995) dan Creswell (1998), Yin (2003) berpendapat bahwa penelitian studi kasus menggunakan berbagai sumber data untuk mengungkapkan fakta di balik kasus yang diteliti. Keragaman sumber data dimaksudkan untuk mencapai validitas dan reliabilitas data, sehingga hasil penelitian dapat diyakini kebenarannya. Fakta dicapai melalui pengkajian keterhubungan bukti-bukti dari beberapa sumber data sekaligus, yaitu dokumen, rekaman, observasi, wawancara terbuka, wawancara terfokus, wawancara terstruktur, dan survey lapangan. Di samping fakta yang mendukung proposisi, fakta yang bertentangan terhadap proposisi juga diperhatikan, untuk menghasilkan keseimbangan analisis, sehingga objektivitas hasil penelitian terjaga.
Meskipun tampaknya berbeda, pengertian tersebut pada dasarnya menuju pada satu pemahaman yang sama. Penjelasannya tidak bertentangan, bahkan saling melengkapi. Kelompok pengertian yang pertama memulai penjelasan dari adanya objek penelitian, yang disebut sebagai kasus, yang membutuhkan jenis penelitian kualitatif tertentu, dengan metode penelitian yang khusus, yaitu metode penelitian studi kasus. Sementara itu, kelompok yang kedua memandang penelitian studi kasus sebagai salah satu jenis metode penelitian kualitatif yang digunakan untuk meneliti suatu objek yang layak disebut sebagai kasus. Kedua kelompok pendapat ini memiliki kesamaan pemahaman, yaitu menempatkan penelitian studi kasus sebagai jenis penelitian tersendiri, sebagai salah satu jenis penelitian kualitatif.
Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu . Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. SementaraYin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Ary, Jacobs, dan Razavieh (1985) menjelasan bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau individu secara mendalarn. Para peneliti berusaha menernukan sernua variabel yang penting.
Studi kasus dalam pendidikan bahasa adalah bentuk penelitian pendidikan bahasa yang mendalam tentang suatu aspek pendidikan bahasa, termasuk lingkungan pendidikan bahasa dan manusia yang terlihat dalam pendidikan bahasa di dalamnya (Nunan, 1992). Oleh karena beberapa klasifikasi “kasus” sebagai objek studi (Stake, 1955) dan “kasus” lainnya dianggap sebagai suatu metodologi (Yin, 1994) maka penjelasan studi kasus merupakan studi yang mendetail yang dapat menggunakan banyak sumber data untuk menjelaskan sebuah variabel atau hal yang diteliti. Kasus bisa dipilih karena keunikannya atau kasus bisa digunakan untuk mengilustrasikan suatu isu.
Fokus penelitian dapat berupa satu entitas (penelitian di suatu tempat) atau beberapa entitas (studi multi tempat/multi-site). Penelitian ini mendeskripsikan kasus, analisis tema atau isu, dan interpretasi atau pembuktian penelitian terhadap kasus. Studi kasus dalam pendidikan bahasa dapat dilakukan terhadap seorang individu, sekelompok individu, lingkungan hidup manusia, serta lembaga sosial yang terkait dengan pendidikan bahasa. Studi kasus dalam pendidikan bahasa dapat difokuskan pada perkembangan sesuatu di bidang pendidikan bahasa. Misalnya, pengaruh didirikannya pondok baca di daerah pedesaan; studi longitudinal tentang perkembangan kemampuan linguistik anak. Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi: (1) sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen; (2) sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk mernahami berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.
B. Tujuan Penelitian Pembelajaran Bahasa
Penelitian merupakan art and science guna mencari jawaban terhadap permasalahan (dan Yoseph dalam Syamsuddin dan Damaianti, 2006:2). Karena merupakan seni dan ilmiah, penelitian memberikan ruang-ruang yang akan mengakomodasikan adanya perbedaan tentang konsep penelitian. Penelitian dapat pula diartikan sebagai cara pengamatan atau inkuiri dan bertujuan mencari jawaban permasalahan atau proses penemuan, baik discovery atau invention. Discovery diartikan sebagai hasil penemuan yang sebetulnya memang sudah ada. Invention dapat diartikan sebagai penemuan hasil penelitian yang betul-betul baru dengan dukungan fakta. Secara umum tujuan kegiatan penelitian adalah menjelaskan dunia di sekitar kita melalui upaya yang sistematis (Kamil, 1995).
Berdasar pada rumusan tersebut, tujuan penelitian pendidikan/pembelajaran bahasa adalah upaya yang sistematis untuk menjelaskan, memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah-masalah pendidikan/pembelajaran bahasa. Secara rinci tujuan penelitian pendidikan/pengajaran bahasa adalah sebagai berikut: a. menemukan dan mengembangkan teori, model, atau strategi baru dalam pendidi- kan/pembelajaran bahasa; b. menerapkan, menguji, dan mengevaluasi kemampuan teori, model, strategi pendi- dikan/pengajaran bahasa dalam memecahkan masalah pendidikan/pembelajaran bahasa; c. mendeskripsikan dan menjelaskan keadaan atau hubungan berbagai isu atau pikiran yang terkait dengan masalah bahasa. d. memecahkan masalah pendidikan/pembelajaran bahasa; e. menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah pendidikan/pembelajaran bahasa; f. membuat keputusan atau kebijakan mengenai pendidikan/pembelajaran bahasa. Masalah pendidikan/pembelajaran bahasa mencakup masalah-masalah linnguistik atau kebahasaan dan keterampilan berbahasa. Masalah linguistik yang menjadi fokus penelitian pendidikan/pembelajaran bahasa di antaranya adalah fenomena-fenomena linguistik yang terkait dengan penutur bahasa dan penggunaan bahasa. Masalah lain yang berhubungan dengan penelitian/pembelajaran bahasa ialah bagaimana mengidentifikasi sifat-sifat bahasa serta model-model pengembangannya. Adapun masalah keterampilan berbahasa yang menjadi fokus penelitian bahasa mencakup keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan.
C. Tujuan Penelitian Membaca dan Menulis
Penelitian membaca didasari dan dipengaruhi oleh penelitian-penelitian psikologi. Pada awal abad ke-20 sampai tahun 1960-an, penelitian difokuskan pada bagian-bagian keterampilan membaca. Selanjutnya, penelitian membaca menghasilkan pemikiran yang sistematis tentang belajar membaca (Kamil, 1995). Penelitian murni tentang membaca berupaya menjelaskan peristiwa-peristiwa membaca yang ada di sekitar kita dan berupaya untuk mengembangkan pengetahuan tentang membaca yang berpengaruh pada penemuan teori membaca. Selanjutnya, teori yang telah dirumuskan diharapkan dapat menjelaskan berbagai permasalahan membaca. Misalnya, dengan teori tersebut kita dapat menjawab apakah membaca itu, siapakah yang melakukan kegiatan membaca, serta kapan, bagaimana, mengapa, di mana peristiwa membaca terjadi. Dari berbagai penelitian, teori-teori membaca semakin lengkap. Teori ini kemudian dikembangkan dalam penelitian membaca terapan untuk menjelaskan berbagai peristiwa membaca yang ada di sekitar kita dan memecahkan permasalahan membaca dalam kehidupan sehari-hari.
Dari waktu ke waktu permasalahan membaca lebih banyak berupa isu tentang membaca terapan karena adanya kebutuhan dan keinginan berupa penerapan teori membaca dalam kegiatan pendidikan, pengajaran, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, masih banyak teori membaca yang tidak dapat memecahkan permasalahan pendidikan dan pengajaran membaca. Hal ini menyebabkan pentingnya pemberian informasi secara terus-menerus dari pendidik dan pengajar tentang permasalahan yang ditemukannya. Hasil penelitian membaca seharusnya dapat diaplikasikan dalam setting yang tepat. Hasil penelitian yang baik dapat menjadi umpan balik bagi kerangka kerja atau model kegiatan yang sedang berlangsung. Ruang lingkup penelitian membaca terapan meliputi evaluasi program membaca individual atau kelompok, metode, teknik, atau strategi pembelajaran membaca, serta model-model pembelajaran membaca. Untuk menentukan variabel dan metodo1ogi dilakukan berdasarkan titik pandang permasalahan membaca serta teori membaca. Penelitian membaca di satu sisi, sebenarnya, tidak terlampau berbeda dengan penelitian menulis. Permasalahan penelitian menulis diarahkan pada peningkatan pemahaman dan kemampuan menulis serta penjelasan proses menulis. Akhir-akhir ini penelitian menulis lebih holistik cakupannya (Shaughnessy, 1977). Selanjutnya, penelitian menulis berkembang ke arah pengkajian bagian bagian dan proses menulis (Hayes and Flower, 1980).
Baik penelitian bidang membaca maupun penelitian bidang menulis banyak dipengaruhi model dan teori membaca dan menulis. Ada tiga model yang mempengaruhi penelitian membaca dan menulis, yaitu: a. model bottom-up atau model keterampilan, dengan tokoh penelitian membacanya adalah Cough, Alford, Holley-Wilcox (1972) dan tokoh penelitian menulis dengan model ini adalah Warriner dan Griffith (1977); b. model top-down atau holistik, dengan tokoh penelitian membacanya adalah Goodman Smith (1971) dan tokoh penelitian menulis dengan model ini adalah Britton (1970); c. model interaktif atau keseimbangan, dengan tokoh penelitian membacanya adalah Rummelhart (1977) dan tokoh penelitian menulis melalui model ini adalah Hayes dan Flower (1980).
Penelitian kontemporer dalam membaca dan menulis banyak dipengaruhi oleh psikologi kognitif, psikologi sosial, linguistik, antropologi, teori belajar, ilmu komputer, dan praktik pendidikan. Beberapa penelitian membaca dan menulis bertujuan memahami sifat-sifat dasar dan teori-teori proses membaca. Upaya-upaya itu termasuk menghasilkan model-model dan teori-teori proses membaca, misalnya, penelitian yang banyak dihasilkan oleh Singer & Ruddeil (1976), Carver (1977-1975). Tujuan lain penelitian membaca dan menulis adalah untuk meningkatkan praktik-praktik pendidikan membaca dan menulis, baik di dalam kelas maupun pada seting lainnya.
D. Tujuan Penelitian Berbicara dan Mendengarkan
Penelitian pendidikan berbicara dan mendengarkan pada umumnya bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah peningkatan kemampuan berbicara dan mendengarkan serta mengatasi masalah kesulitan berbicara dan mendengarkan. Melalui penelitian eksperimen, kesulitan berbicara dan mendengarkan dapat dilakukan dengan mengkaji atau menelaah faktor-faktor sebab-akibat kesulitan berbicara dan mendengarkan. Salah satu contoh penelitiannya ialah tentang melihat pengaruh model pembelajaran berbicara untuk meningkatkan kemampuan berbicara; melihat pengaruh suatu terapi terhadap perilaku seseorang yang mengalami kesulitan berbicara. Pertanyaan penelitian yang muncul adalah apakah suatu model pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan berbicara? Apakah terapi menyebabkan perubahan dalam perilaku berbicara? Adakah pengaruh keter- lambatan simakan terhadap kemampuan berbicara?
Ada empat karakterisik penelitian eksperimen dalam bidang berbicara dan mendengarkan, yaitu sebagai berikut. (1) Eksperimen diawali dengan maksud, tujuan, pertanyaan, atau hipotesis tentang masalah atau perilaku khusus tentang berbicara atau mendengarkan. (2) Eksperimen dapat mengontrol berbagai variabel yang diperkirakan menyebabkan perilaku khusus mengenai berbicara atau mendengarkan. (3) Penelitian eksperimen dapat dirancang secara sistematis untuk memberikani perlakuan terhadap kelompok yang dijadikan subjek penelitian. Penelitian lain dalam bidang berbicara dan mendengarkan bertujuan mendeskripsikan perbedaan kemampuan berbicara dan mendengarkan dua kelompok subjek penelitian, menggambarkan kecenderungan perkembangan kemampuan berbicara dan mendengarkan dan menggambarkan hubungan antara kemampuan mendengarkan dan berbicara.
Pada penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi terhadap kondisi-kondisi yang sedang diteliti. Ada empat tipe penelitian deskriptif dalam bidang ini, yaitu: (1) komparasi, (2) perkembangan, (3) hubungan, dan (4) survei. Penelitian kesejarahan dapat pula dilakukan untuk membuat generalisasi mengenai hubungan di masa lain tentang faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan dalam berbicara atau mendengarkan serta implikasinya pada kemampuan mendengarkan dan berbicara pada saat ini. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah merekam atau mencatat gambaran peristiwa masa lalu yang terkait dengan kemampuan seseorang dalam berbicara dan mendengarkan. Kemudian peneliti menganalisisnya serta mensintesiskannya ke dalam materi yang sedang diteliti, yaitu yang berkenaan dengan masalah kesulitan berbicara dan mendengarkan.
E. Sifat Penelitian Pendidikan Bahasa
Karena kegiatan penelitian dipandang sebagai metode ilmiah, karakteristik atau sifat metodologi penelitian pendidikan bahasa sama dengan bidang-bidang lainnya. Menurut Tuckman (1982), Nunan (1992), McMillan & Schumacher (2003), Sukardi (2003) sifat metodologi penelitian pendidikan bahasa adalah sebagai berikut. a. Bertujuan Penelitian mutlak memiliki tujuan yang dapat memberikan arah dan target yang hendak dicapai. Tujuan ini dapat dipakai sebagai tolok ukur dan penilaian ketercapaian hasil penelitian.b. Sistematis Penelitian merupakan proses yang terstruktur sehingga diperlukan langkah-langkah yang tepat untuk melaksanakannya. Pelaksanaan penelitian yang baik dilakukan secara terencana dan sistematis sejak tahap awal ditentukannya per-masalahan penelitian sampai dengan penarikan simpulan hasil penelitian. Sistematika permasalahan tersebut dituangkan ke dalam langkah-langkah proses penelitan. Langkah-langkah dalam proses penelitian akan bergantung pada pendekat-an/metode yang digunakan dalam sebuah penelitian. Penelitian positivistik kuantitatif tentu akan berbeda sistematikanya dengan pendekatan naturalistik/kualitatif. c. Objektif Objektivitas mengacu kepada kualitas data yang dihasilkan oleh prosedur yang dapat mengontrol subjektivitas. Penelitian itu ada objek yang diteliti. Untuk dapat memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah, sebuah penelitian, benar-benar memerlukan data dan objek yang diteliti.. Karena objek tersebut dapat diindera manusia, semua pihak akan memberikan persepsi yang sama terhadap objek itu. Akan tetapi, karena keterbatasan kemampuan indera manusia dalam melakukan pengamatan, peneliti dapat menggunakan alat-alat bantu, seperti instrumen penelitian. Instrumen ini harus melalui uji validitas dan reliabilitasnya agar lebih akurat. d. Logis. Penelitian dilakukan melalui langkah-langkah yang sistematis, yaitu dengan urutan atau proses berpikir yang logis, sehingga validitas internalnya secara relatif dapat dipenuhi. Dengan demikian, simpulan dan generalisasi akan mudah dicek kembali oleh peneliti maupun oleh pihak lain.
Peneliti dapat melakukan penelitian melalui langkah-langkah logis, baik secara deduktif maupun induktif. Secara deduktif, peneliti melakukan penelitian dari suatu pernyataan umum ke simpulan khusus. Sebaliknya, penelitian dapat dilakukan secara induktif, yaitu bila peneliti mencapai suatu simpulan dengan mengamati kasus tertentu kemudian membentuk generalisasi. Simpulannya terbatas pada kasus yang diamati. e. Empiris Penelitian berkenaan dengan dunia empiris/nyata yang dapat diindera oleh pancaindera manusia yang bersifat objektif. Karakteristik sebuah penelitian dilihat melalui pendekatan yang empiris. Bagi peneliti, bukti adalah data, yaitu hasil-hasil nyata yang diperoleh melalui penafsiran dan penyimpulan dari suatu penelitian (McMillan & Schumacher, 2003). f. Reduktif Bila sebuah penelitian menggunakan prosedur yang analitis untuk menda-patkan data, sebenarnya peneliti telah mereduksi berbagai kebingungan tentang suatu fenomena atau masalah. Fenomena itu semula tidak dimengerti dan membingungkan. Akan tetapi, dengan penelitian yang tepat, fenomena atau kejadian itu dapat diketahui maknanya. Proses reduksi sebenarnya merupakan bagian dari usaha menerjemahkan realitas menjadi kenyataan yang bersifat konseptual sehingga dapat digunakan untuk memahami hubungan kejadian yang satu dan kejadian lainnya. g. Replicable dan Transmitable Suatu penelitian kuantitatif pada umumnya dapat diulangi oleh peneliti lain untuk mengecek kebenarannya. Agar dapat diulang dengan mudah, laporan penelitian harus dibuat secara sistematis dan jelas, mulai dan kejelasan variabel, populasi dan sampel, prosedur mendapatkan sampel, instrumen, uji hipotesis, data yang dihasilkan, analisis hasil, sampai pada simpulan dan saran yang diajukan. Selama itu, penelitian pendidikan bahasa harus bersifat transmitable, artinya penelitian harus mampu memecahkan masalah-masalah sehingga dapat digunakan oleh berbagai pihak untuk berbagai keperluan (Sugiyono, 1994).h. Penjelasan Singkat Penelitian berusaha menjelaskan hubungan yang ada terhadap fenomena-fenomena tertentu yang dapat mengurangi realitas yang kompleks menjadi penjelasan yang sederhana (McMillan & Schumacher, 2003). i. Simpulan Bersyarat Hasil penelitian pendidikan, khususnya pendidikan bahasa merupakan sebuah simpulan yang bersyarat atau tidak mutlak. Kesalahpahaman yang sering muncul, yaitu bahwa hasil penelitian adalah mutlak dan simpulannya bersih dari kekeliruan.
F. Sikap llmiah Seorang Peneliti
Seorang peneliti seyogyanya memiliki sikap ilmiah. Berikut ini terdapat sembilan sikap ilmiah yang selayaknya dimiliki oleh seorang peneliti. a. Sikap Ingin Tahu Seseorang yang bersikap ilmiah itu selalu bertanya-tanya mengenai berbagai hal yang dihadapinya. Ia selalu tertarik pada hal-hal yang lama dan yang terutama ia selalu tertarik pada hal-hal yang baru. Hal-hal yang lama, walaupun biasanya telah dipertanyakan oleh para ahli sebelumnya mungkin saja masih memerlukan pemikiran lebih lanjut. Hal-hal yang baru menarik untuk dipelajari agar dapat, dicapai suatu pernyataan umum. b. Sikap Kritis Orang yang bersikap kritis itu tidak puas dengan jawaban tunggal. Ia akan selalu berusaha mencari hal-hal yang ada di belakang gejala, bahkan yang ada di belakang fakta yang dihadapinya. Sikap ingin tahu itu menimbulkan motivasi yang kuat untuk belajar dan karena motivasi itu, timbullah sikap kritis. Ia tidak akan lekas percaya. Karena memiliki sikap ingin tahu itulah, ia mencari informasi sebanyak mungkin sebelum ia menentukan pendapat untuk ditulis. Ia tidak gegabah mengucapkan atau menulis suatu pernyataan umum. Bagi seseorang yang bersikap kritis, hukum-hukum alam dan data empiris merupakan hal yang nomor satu. Ia dapat membedakan dengan baik antara hukum alam, hipotesis, teori, dugaan, dan pendapat. Ia meneliti dalam upaya membandingkan fenomena-fenomena yang serupa. e. Sikap Terbuka Orang yang bersikap ilmiah itu selalu bersikap terbuka, yaitu selalu bersedia mendengarkan keterangan dan argumentasi orang lain walaupun berbeda dengan pendiriannya. Orang yang bersikap terbuka itu, tidak menutup mata terhadap kemungkinan yang lain. Ia tidak emotif dalam menanggapi kritik, sangkalan bahkan celaan terhadap pendapatnya. d. Sikap Objektif Bersikap objektif itu adalah menyisihkan perasaan pribadi (personal bias), atau mengesampingkan kecenderungan yang tidak beralasan, dengan kata lain dapat menyatakan apa adanya, dapat melihat secara nyata, dan aktual. Peneliti yang bersikap objektif tidak ‘dikuasai’ oleh pikiran-pikirannya sendiri atau perasaannya sendiri, dan tidak dipengaruhi oleh prasangka. e. Sikap Rela Menghargai Karya Orang Lain Peneliti yang bersikap ilmiah memiliki jiwa yang cukup besar untuk menghargai karya orang lain tanpa merasa dirinya kecil. Peneliti yang congkak, dan merasa lebih tidak mungkin bersikap objektif, dan karya tulisnya akan bernada sombong, memerintah atau menggurui. Peneliti congkak itu biasanya bersikap meng-’aku’. Peneliti yang berjiwa ilmiah pantang mengaku karya orang lain sebagai karya orisinal yang berasal dan dirinya sendiri. Ia rela dan dengan senang hati mengakui dan mengucapkan terima kasih atas gagasan (ide) atau karya orang lain yang semata-mata ia kutip.f. Sikap Berani Mempertahankan Kebenaran Peneliti yang bersikap ilmiah berani menyatakan kebenaran dan apabila perlu, Ia mempertahankannya. Kebenaran itu mungkin berupa fakta atas hasil penelitiannya sendiri atau hasil penelitian atau karya orang lain. Sikap itu menimbulkan kebulatan dalam cara berpikir dan menimbulkan konsistensi dalam penulisan yang merupakan syarat mutlak bagi karya tulis ilmiah. g. Sikap Menjangkau ke Depan Peneliti yang bersikap ilmiah mempunyai pandangan jauh ke depan. Perkembangan etika dan kebudayaan pada umumnya menarik perhatian bagi orang-orang yang bersikap ingin tahu, kritis, terbuka dan objektif. Oleh karena itu, ia berpandangan jauh ke depan. Peneliti ini bersifat ‘futuristik’, yaitu mampu melihat jauh ke depan. Apabila ia juga seorang peneliti yang baik, ia mampu membuat hipotesis dan membuktikannya, serta ia dapat menyusun teori. Bahkan jika ia seorang yang beraka budi yang cerdik (jenius), ia dapat sarnpai pada penjangkauan hukurn-hukum alam. Sikap menjangkau ke depan itu membuat seseorang yang bersikap ilmiah gernar membaca, menganggap meneliti itu sebagai suatu kebutuhan, dan ia menganggap menulis secara ilmiah itu sebagai kewajiban.
Berdasarkan tujuan, penelitian dapat dikelompokkan menjadi penelitian dasar dan penelitian terapan. Penelitian dasar bertujuan untuk mengembangkan teori dan tidak langsung memperhatikan kegunaan praktis. Penelitian terapan bertujuan menerapkan, menguji, dan mengevaluasi kemampuan suatu teori yang diterapkan dalam memecahkan masalah-masalah praktis sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, baik secara individual maupun kelompok (Gay dalam Syamsuddin dan Damaianti, 2006:20-21).
Penelitian berdasarkan jenis data dibedakan menjadi penelitian kuantitatif dan kualitatif. Proses penelitian kuantitatif didasarkan pada paradigma positivisme yang bersifat logico-hipothetico-verifikatif dengan berlandaskan pada asumsi mengenai objek empiris dan bersifat linier. Penelitian kuantitatif menyajikan hasil-hasil statistik yang diawali oleh angka-angka, sedangkan penelitian kualitatif menyajikan data yang dinarasikan dengan kata-kata, skema, dan gambar.
Penelitian berdasarkan aspek metode dapat dilihat dari pengelompokkan penelitian kualitatif dan kuantitaif. Penelitian kuantitafif dibedakan menjadi penelitian ekperemental dan nonekspremental, sedangkan penelitian kualitatif dapat dibedakan menjadi penelitian interaktif dan noninteraktif (Syamsuddin dan Damaianti, 2006:22-30). Penelitian eksperemental terdiri atas jenis penelitian ekperemen, ekperemen kuasi, dan subjek tunggal. Penelitian nonekperemen terdiri atas penelitian deskriptif, komparatif, korelasional, survei, dan ex post facto.
Penelitian kualitatif interaktif adalah suatu studi mendalam yang menggunakan teknik tatap muka untuk mengumpulkan data dari orang-orang yang ada di dalam seting penelitian tersebut. Para peneliti interaktif menjelaskan konteks studi, mengilustrasikan perspektif-perspektif yang berbeda atas fenomena, dan merevisi pertanyaan-pertanyaan secara berkelanjutan dari pengalaman mereka di dalam bidang tersebut. Adapun penelitian interaktif, yaitu ethnografi, fenomenologik, studi kasus, grounded theory, dan studi kritis.
Pengajaran dan pembelajaran bahasa merupakan bidang dari linguis terapan. Ciri yang menonjol dari linguistik terapan adalah kepraktisannya mengacu pada konsumen atau pemakai bahasa (Alwasilah, 2009:48-54). Adapun beberapa kajian lingusitik terapan, antara lain : (1) Linguistik klinis, yang memanfaatkan temuan-temuan linguistik untuk mengkaji persoalan medis, seperti kelainan berbahasa dalam bentuk kecelakaan otak dan tunarungu. (2) Linguistik edukasional, yang mengkaji bahasa untuk kepentingan kependidikan, khususnya yang terkait dengan bahasa daerah. Wilayah kajian meliputi pengajaran dan kesulitan siswa dalam membaca dan menulis atau kurikulum bahasa. (3) Leksikografi, yakni profesi yang memanfaatkan temuan-temuan dan metodologi linguistik untuk menggeluti seni dan praktik penyusunan kamus. (4) Terjemahan, yakni segala sesuatu –linguis maupun nonlinguis- yang berkaitan dengan pengalihbahasaan makna yang melibatkan dua bahasa. (5) Pengajaran dan pembelajaran bahasa. Adapun bidang penerapan linguistik, yaitu (1) metodologi pengajaran, pembelajaran dan tes bahasa kesatu dan kedua. (2) Pendidikan multikultural dalam masyarakat. (3) Teknologi pengajaran bahasa. (4) Problem bahasa dan individu (pemerolehan bahasa dan disfungsi bahasa). (5) Problem bahasa dan masyarakat (perencanaan bahasa dan pembakuan bahasa). (6) Teori dan praktik penerjemahan. (7) Analisis dan interpretasi wacana lisan dan tertulis (termasuk stilistika, puisi, dan pragmatik). (8) Studi bahasa dan kaitanya dengan sistem semiotik lain (termasuk film dan teater, tari, kode, pakaian, ornamen, mitologi, dan foklor).
Kepraktisan linguistik terapan terlihaat dari pertanyaannya, yaitu mengajar apa, kapan mengajarnya, dan berapa banyak yang diajarkannya. Seperti tabel berikut linguistik terapan sebagai mediator antara pemerintah dan guru bahasa di lapangan
Tabel Hierarki Perencanaan Pengajaran Bahasa
Hirerki Pelaku Isu-isu yang dihadapi
Tingkat 1. Politik Pemerintah Apakah perlu diajarkan, bahasa apa, dan untuk siapa.
Tingkat 2. Linguitik dan Sosiolinguistik Linguistik terapan Apa yang diajarkan kapan dan berapa banyak
Tingkat 3 Psikolinguistik dan Pedagogi Guru kelas Bagaimana mengajarkannya
Ada tiga jenis sains terapan, khususnya yang berkaitan dengan linguistik, yaitu (1) Metode dan hasil dari satu cabang sains digunakan untuk mengembangkan cabang ilmu lain, misalnya dari cabang linguistik dikembangkan model kajian filologi dan stilistika. (2) Metode dan hasil dari satu cabang sains digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis seperti pengajaran bahasa. (3) Penerapan atau aplikasi itu sendiri, seperti halnya yang dilakukan guru dalam kelas, atau penerjemah dalam melakukan terjemahannya. Guru dengan kata lain merupakan ujung tombak atau yang melaksanakan kajian-kajian linguis terapan. Prinsip-prinsip penerapan linguistik dalam bagaan merikut ini sesungguhnya merupakan pengembangan prinsip-prinsip keilmuan linguistik.
Diagram Linguistik Terapan
H. Keuntungan dan Kelemahan Studi Kasus
Sumber daya yang tersedia untuk penelitian selalu langka dan studi kasus menyediakan sarana untuk mencakup sejumlah besar daerah kasus menyediakan sarana untuk mencakup sejumlah besar daerah dengan biaya yang tidak terlalu besar. Lebih khusus lagi, cara ini menyediakan sarana untuk mempelajari masalah yang agak rumit secara mendalam. Dengan menggunakan studi kasus, demikianlah peneliti untuk membandingkan sejumah pendekatan yang berbeda-beda terhadap suatu masalah dengan cukup rinci untuk mengambil pelajaran yang dapat diterapkan secara umum.
Karena sifatnya, studi kasus digunakan untuk menggambarkan hal-hal umum dan untuk memperoleh kesimpulan yang dapat dirampatkan untuk mencakup keadaan yang lebih banyak. Akan tetapi, dari segi statistik, cara ini tidak absah untuk sampel yang dipilih secara tepat. Oleh karena itu, seberapa jauh perampatan yang absah dapat dibuat bergantung pada seberapa jauh derajat studi kasus itu sendiri bersifat khas dan juga pada pola ketelitian pengambilan kesimpulan. Oleh karena itu, sangat penting, peneliti memberikan perhatian khusus pada kedua hal ini, apabila mengamati hasil penelitian berdasarkan studi kasus.
Studi kasus sering digunakan untuk memperjelas proses yang rumit, hasilnya, dan apa yang terjadi sebelumnya. Cara ini dapat merupakan proses yang banyak menyita waktu, terutama kalau mengamati perubahan organisasi, penelitain bisa berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Kelemahan ini ialah bagian lain dari dunia tidak menunggu hasil penelitian dan ketika terbitan itu muncul, sering sudah ditinggalkan keadaan.
Studi kasus yang baik memiliki lima kreteria. Pertama, studi kasus dikatakan signifikan apabila kasus itu sendiri menyangkut sesuatu yang luar biasa, yang berkaitan dengan kepentingan umum atau bahkan dengan kepentingan nasional. Kedua, studi kasus dikatakan lengkap apabila batas-batasnya dapat ditentukan dengan jelas. Ketiga, studi kasus yang baik haruslah mampu menunjukkan bukti-bukti yang paling penting saja. Terakhir, studi kasus yang baik hendaknya ditulis dengan gaya yang menarik sehingga mampu terkomunikais dengan pembaca.
I. Janis-jenis Studi Kasus
Pendekatan studi kasus dalam penelitian sering diletakkan pada penelitian kulitatif (Bigdan dan Biklen, 1982; Burges, 1985). Sependapat dengan pemahaman di atas Vredenbergt (1978); Ary dan Razavieh (1985) menjelaskan sifat studi kasus sebagai suatu pendekatan yang bertujuan untuk memepertahankan keutuhan objek, artinya data yang dikumpulkan dalam rangka studi kasus dipelajari sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi. Tujuan dari studi kasus adalah untuk mengembangkan pengetahuan yang mendalam mengenai objek yang bersangkutan yang berarti bahwa studi kasus harus berupa suatu penelitian eksploratif dan deskriptif (Arikunto, 1989). Studi kasus yang bersifat eksploratif dan deskriptif digunakan untuk menjawab pertanyaan ”apa”, sedangkan yangbersifat eksplanatoris digunakan untuk menjawab ”bagaimana” dan ”mengapa”. Namun demikian, jika dibandingkan dengan metode-metode lainstudi kasus pada dasarnya lebih banyak berurusan dengan pertanyaan mengapa dan bagaimana.
Studi kasus juga merupakan ciri penelitian yang lebih mudah dibandingkan studi lainnya, yaitu studi multi situs atau studi muklti subjek (Bogdan dan Biklen, 1982). Studi kasus kualitatif memiliki beberapa jenis, masing-masing memerlukan pertimbangan khusus untuk menetapkan apakah suatu masalah dapat diteliti dan prosedur apa yang akan digunakan. Jenis studi kasus menurut Bogdan dan Biklen (1982) diklarifikasikan sebagai berikut.
1. Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi dipusatkan pada perhatian organisasi tertentu dan dalam kurun waktu tertentu, dengan menelusuri perkembangan organisasinya. Studi ini kurang memungkinkan untuk diselenggarakan karena sumbernya kurang mencukupi untuk dikerjakan secara minimal.
2. Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalui observasi peran serta atau pelibatan, sedngkan fokus studinya pada suatu organisasi tertentu atau beberapa segi organisasinya. Bagian-bagian organisasi yang menjadi fokus studinya antara lain: (a) suatu tempat tertentu di dalam sekolah; (b) satu kelompok siswa; (c) kegiatan sekolah.
3. Studi kasus sejarah hidup, yang mencoba mewawancarai satu orang dengan maksud mengumpulkan narasi orang pertama. Untuk jenis wawancara yang dilakukan oleh ahli sejarah disebut sebagai sejarah lisan, mereka biasanya memwawancarai orang-orang dengan kepemilikan sejarah yang khas, sedangkan kepada orang tidak memiliki latar belakang khusus seringkali disebut sejarah ”orang kebanyakan”.
4. Studi kasus kemasyarakatan, merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan yang dipusatkan pada suatu lingkungan tetangga atau masyarakat sekitar.
5. Studi kasus analisis situasi, jenis studi kasus ini mencoba menganalisis situasi terhadap peristiwa atau kejadian tertentu.
6. Mikroethnografi, merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit organisasi yang snagat kecil.
J. Implementasi Penelitian Studi Kasus
Di dalam mengimplementasikan pendekatan studi kasus Bogdan dan Biklen (1982) memberikan petunjuk desain yang disajikan dalam bentuk cerobong. Cerobong ini melukiskan proses penelitian yang berawal dari eksplorasi yang bersifat luas dan dalam, kemudian berlanjut dengan aktivitas pengumpulan dan analisis data yang lebih menyempit dan terarah pada suatu topik tertentu. Bentuk ini merupakan langkah sistematis penelitian, mula-mula peneliti menjajaki tempat dan orang yang dapat dijadikan sumber data atau subjek penelitian, mencari lokasi yang dipandang sesuai dengan maksud pengkajian, dan selanjutnya mengembangkan jaringan yang lebih luas untuk menemukan kemungkinan sumber data, seperti cerobong Owens (1987) sebagai berikut.
General Outline of Plan for a Naturalistic Study
Penggunaan bentuk cerobong dalam penelitian kasus, mengisyaratkan peneliti untuk berusaha memeroleh perian dan eksplanasi yang dapat membantu mengonstruksi dan mengklasifikasi kenyataan-kenyataan dan mengintegrasikan data ke dalam seperangkat konstruk teoretik (Owens, 1987). Apabila peneliti di lapangan mendapatkan berbagai kekurangan pengetahuan tentang apa yang diteliti, peneliti disarankan untuk membentuk konstruk-konstruk teoretik (DiCaprio, 1974). Konstruk-konstruk teoretik itu disusun berdasarkan postulat yang bersifat pembuktian sediri selama hal itu dianggap relevan dan sesuai dengan situasi kondisi di lapangan. Selanjutnya Kadir (1992) memberikan garis besar tahapan dalam melakukan studi kasus, yaitu (1) Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara bertujuan dan bukan secara rambang. (2) Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalam pengumpulan data, tetapi yang lebih dipakai dalam penelitian kasus adalah observasi, wawancara, dan analsis dokumentasi. (3) Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat memulai mengagregasi, mengorganisasi, dan mengkalsifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. (4) Perbaikan: meskipun semua data telah terkumpul, dalam pendekatan studi kasus hendaknya dilakukan penyempurnaan atau penguatan data baru terhadap kategori yang telah ditemukan. (5) Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, mudah dibaca, dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas sehingga memudahkan pembaca untuk memahami seluruh informasi penting. Adapun petunjuk menggunakan studi kasus, yaitu menentukan cakupan dan sifat kajian, memilih studi kasus (sifat dan pendekatan resmi), memperoleh kerja sama, membina hubungan kerja sama yang efektif dengan mereka yang akan diteliti, dan tidak mengganggu keobjektifan kerja (Syamsuddin dan Damaianti, 2006:187-188)
K. Studi Kasus Bahasa
Studi kasus bahasa (LCaS) mencoba untuk membiasakan guru bahasa dengan metode studi kasus dan untuk merangsang guru bahasa dan pelatih guru membuat studi kasusnya sendiri sesuai dengan kebutuhan pengajaran mereka. Ruang lingkup dan keterbatasan proyek pengajaran bahasa. Komunikatif telah menjadi metode utama selama bertahun-tahun, namun interaksi kelas sangat sering terbatas pada antara siswa dan guru. Penggunaan pendekatan problem-based learning dan metode pengajaran yang berorientasi tugas, seperti proyek kerja, simulasi dan studi kasus otentik, telah terbukti menjadi sarana yang efisien dalam memungkinkan peserta didik untuk meningkatkan keterampilan bahasa mereka dalam kemampuan membaca, menulis dan berbicara, dan mengembangkan strategi pemecahan masalah dan kerja sama tim. Hal tersebut otentik bahan memotivasi peserta didik, meningkatkan proses belajar, dan memiliki dampak positif pada kompetensi bahasa.
Tujuan LCaS untuk meningkatkan pengajaran bahasa di tingkat menengah dan universitas dengan memperkenalkan berorientasi tugas pendekatan melalui penggunaan studi kasus dalam pengajaran bahasa; mengembangkan modul pelatihan guru termasuk bahan mengajar diujicobakan untuk digunakan dalam kelas. Adapun karakteristik LcaS isu-isu pengajaran bahasa lebih luas. Pentingnya bahasa mengajar dan belajar, dan pertukaran internasional dan kerjasama telah meningkat sejak 1980-an dan 1990-an ketika globalisasi dan komunikasi dalam bahasa asing menjadi semakin penting. Ini telah memiliki cukup berdampak pada pengajaran bahasa: setelah dominasi andtranslation-tata bahasa metode dalam kelas bahasa di Eropa, “komunikasi” dan “kompetensi komunikatif” telah menjadi kata kunci selama tiga puluh tahun terakhir. Metode tata bahasa-terjemahan memberi peserta didik pengetahuan teoretis yang baik tentang bahasa dan kompetensi yang disediakan dalam menerjemahkan teks. Bahasa kelas tersebut didasarkan pada teks tertulis, kompetensi lisan sementara itu dianggap kurang penting. Dengan meningkatkan pertukaran dan kerjasama di kemudian setengah abad ke-20, metode ini tidak lagi sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan teknik baru yang diterapkan, dipengaruhi oleh teori-teori seperti strukturalisme, transformasi tata bahasa, dan metode komunikatif. Tetapi bahkan metode komunikatif, dalam prakteknya, sering terbatas komunikasi yang nyata dalam bahasa belajar kelas untuk memainkan peran pendek dan latihan. Ini adalah terbatas waktu dan tidak berhubungan dengan kegiatan lain di dalam kelas karena mereka mengikuti tata bahasa dan kegiatan kosakata atau membaca dan mendengarkan latihan. Memainkan peran itu, dalam banyak kasus, tidak terkait dengan status dan pengalaman peserta didik dan tidak sangat otentik. Oleh karena itu, pelajar kadang-kadang enggan untuk bertindak keluar bermain peran, atau mereka dialog berlebihan sehingga seluruh situasi menjadi lucu. Hal ini karena
beberapa memainkan peran mengharuskan para siswa mengambil peran realistis atau tidak diinginkan atau karena mereka tidak sesuai dengan kebutuhan peserta didik dalam suatu situasi tertentu.
Studi kasus yang tegas berdasarkan analisis dan pemahaman tertulis, dan dalam beberapa kasus oral, material. Pembelajar dihadapkan dengan sejumlah besar teks, yang mereka harus menganalisis untuk memahami soal yang diberikan dan untuk menemukan informasi tentang berbagai aspek kasus ini. Ketika bekerja pada studi kasus, peserta didik mendapatkan asli, atau “hampir otentik”, yaitu, ringan diedit, material pada situasi tertentu dan harus memecahkan masalah dengan tugas menyelesaikan, meneliti, dan menyelidiki. Tingkat keaslian tugas dapat terletak di suatu tempat antara simulasi global, yang memiliki unsur fiktif yang kuat, dan proyek pekerjaan, yang sangat nyata sejauh tugas dan keterlibatan peserta didik adalah bersangkutan.
Penggunaan studi kasus membantu pelajar untuk mengembangkan keahlian riset, yang mereka akan hampir tentu perlu dalam kehidupan masa depan profesional mereka. Sifat menerima tugas jauh kuat dibanding dengan dua metode lain yang disebutkan sebelumnya. Selain itu, studi kasus dapat memerlukan waktu kelas lebih sedikit untuk guru dan pelajar dari pekerjaan proyek atau global simulasi, dan dapat dengan mudah diintegrasikan ke dalam silabus yang ada. Ketika bekerja pada sebuah studi kasus, siswa diminta untuk menganalisis materi (reseptif elemen) dan kemudian mengembangkan solusi untuk masalah, yang mereka akan harus hadir
secara lisan dan tertulis (elemen produktif). Membaca adalah bagian integral dari kegiatan dan peserta didik dilatih dalam pemahaman membaca yang efektif.
Studi kasus juga merangsang kerja tim, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan presentasi, diskusi keterampilan, keterampilan negosiasi, kompetensi dalam pembuatan kompromi, antarbudaya kompetensi dan kemampuan belajar. Tapi sebagian besar dari semua, studi kasus sangat memotivasi: pelajar menghabiskan lebih banyak waktu membaca teks dalam bahasa asing, mereka merasakan kebutuhan nyata untuk mengekspresikan diri menggunakan bahasa target dan lebih berupaya untuk mempersiapkan mereka presentasi. Proses belajar karena itu diintensifkan dan menjadi lebih sukses, yang menyebabkan hasil linguistik yang lebih baik dalam situasi komunikasi yang otentik. Perbedaan antara LCaS dan studi kasus dalam disiplin lain. LCaS dan studi kasus dalam disiplin lain yang digunakan dalam dua cara yang berbeda: di lain disiplin topik dan isi studi kasus secara langsung berhubungan dengan aspek silabus atau subjek diajarkan atau dinilai; konten adalah elemen kunci dari kasus studi, dan kebenaran dan rincian ditekankan. Bila menggunakan LCaS, konten adalah alat dan bahasa menjadi tujuan dari kegiatan ini - setidaknya di guru perspektif, sehingga konten biasanya kurang rinci dan hasilnya dinilai terutama kompetensi linguistik mereka.
Beikut ini diuraikan salah satu contoh penyajian dalam menggunakan LCaS di kelas dengan dua belas tahapan (Fischer, 2008:29-31):
1. Menyajikan LCaS kepada peserta didik
a.Menjabarkan masalah
b.Mengalokasikan peran
c.Memeriksa pemahaman
2. Membagi peserta didik dalam kelompok kecil
a. Membaca LcaS
b. Memahami skenario
3. Membahas masalah dengan pembelajar
a. Memahami masalah
b. Menyelesaikan kesulitan
4. Penelitian
a. Memahami navigasi LcaS
b. Dipandu penelitian
c. Guru fasilitasi
5. Mengevaluasi temuan
a. Klarifikasi informasi
b. Beratnya argumen
6. Bersiap untuk menyajikan solusi
a. Penyusunan poin utama
b. Memeriksa waktunya
c. Memeriksa makna dan ejaan
d. Menyediakan solusi
7. Presentasi kelompok: bekerja dari catatan
a. Kelompok ini terlibat dengan para penonton
b. Membuat poin-poin kunci
c. Improvisasi
d. Mempertahankan kontak mata
e. Melewati ke pembicara berikutnya
8. Presentasi kelompok: menggunakan alat bantu visual
a. Menggunakan OHP
b. Kekuatan MS PowerPoint
c. Menjawab pertanyaan
9. Pleno: kelompok mencari solusi untuk LcaS
a. Bergantian
b. Mengembangkan toleransi
c. Bertukar ide
d. Menjelajahi kompromi
10. Memberikan dan menerima umpan balik
a. Mendengarkan orang lain
b. Penilaian diri
c. Menjadi positif
11. Diri dan penilaian sejawat: menonton rekaman
a. Menemukan daerah untuk perbaikan
b. Melihat bahasa tubuh secara rinci
12. Refleksi LCaS kerja
a. Apa yang berjalan dengan baik
b. Apa yang disajikan kesulitan
c. Gagasan untuk masa depan
d. Apa yang telah dipelajari
Tahap ini adalah contoh dan tergantung pada tujuan pembelajaran dan
tingkat kompetensi - baik linguistik dan metalinguistik - aspek tertentu dapat
memerlukan perhatian lebih dari orang lain dalam setiap kelompok individu.
Bila menggunakan studi kasus di kelas guru harus memberikan perhatian khusus untuk: manajemen waktu (misalnya, bagaimana untuk menyertakan studi kasus dalam
semester/mingguan program; bagaimana merencanakan silabus); pelajaran perencanaan (misalnya, bagaimana memasukkan bekerja studi kasus di jam
alokasi untuk pelajaran, bagaimana untuk menyajikan seperangkat bervariasi kegiatan, bagaimana untuk membagi
kerja antara kerja kelas dan pekerjaan rumah, bagaimana untuk memungkinkan untuk yang tak terduga); menjelaskan tugas kepada siswa (misalnya, bagaimana untuk memeriksa pemahaman; bagaimana menggunakan istilah dan bahasa yang jelas, bagaimana untuk menjawab pertanyaan, bagaimana untuk memperoleh
pertanyaan); pengorganisasian kerja berpasangan (misalnya, pemahaman dinamika kelas; pemahaman keterampilan komplementer; mendapatkan respon, bagaimana tidak untuk mendominasi); mengorganisir kelompok (misalnya, pemahaman manfaat dari kerja kelompok, pemanfaatan kelompok, membuat pengelompokan produktif, belajar untuk berdiri kembali, memunculkan umpan balik, pemahaman kebisingan); siswa mempersiapkan diri untuk hadir (misalnya, memberikan contoh, memberikan
bahasa, mendadak presentasi, presentasi singkat, teks berubah untuk bahasa lisan, menjelaskan psikologi); perencanaan dan film presentasi (misalnya, mengatasi technophobia, menggunakan teknologi, perencanaan rincian teknis, waktu, urutan
presentasi, dengan menggunakan tips film); pengorganisasian kelas menulis (misalnya, menyediakan model untuk menyalin, memberikan
tanggapan singkat tugas, mengorganisir ide-ide, mengajar mendaftar, menggabungkan membaca dan menulis).
Karakteristik pembelejaran dengan metode kasus, yaitu menekankan pada analisis situasional, pentingnya menghubungkan antara analisis dan tindakan, perlunya keterlibatan mahasiswa, peran pengajar yang tidak tradisional, dan suatu keseimbangan antara sasaran-sasaran substansi dan proses pembelajaran (Jugiyanto, 2007:36-39). Lebih lanjut Corey (dalam Jugiyanto, 2007:39-41) menjelaskan bahwa pembelajaran metode kasus dapat menyediakan elemen-elemen dari pembelajaran yang efektif, yaitu pembelajaran dengan penemuan, pembelajaran melalui investigasi, pembelajaran lewat latihan berkelajutan, pembelajaran dengan perbedaan dan pembandingan, pembelajaran lewat keterlibatan, dan pembelajaran lewat motivasi. Adapun tujuan yang dapat dicapai dari pembelajaran dengan menggunakan metode kasus adalah memungkinkan menggabungkan teori dan praktik dalam proses pembelajaran, memungkinkan mahasiswa belajar pengalaman dari tangan pertama dari pelaku kasusnya, memungkinkan mentransfer managerial wisdow ke dalam ruang kelas, memungkinkan mahasiswa mengembangkan sense of judgement mereka, memahami praktik pembelajaran sesungguhnya dengan cara yang efisien, meningkatkan komunikasi mahasiswa, melatih mahasiswa berpikir secara konstruktif, dan mendorong mahasiswa mempunyai kemampuan sintesa dan evaluasi.
L. Isu-isu dalam Penelitian Kualitatif
Beberapa permasalahan dalam penelitian kualitatif yang sering ditemui saat ini baik dalam penelitian teisis maupun disertasi, diantaranya berkenaan dengan pertanyaan penelitian, metode penelitian, termasuk prosedur penelitian atau pengambilan data serta analisis data ( Furqan dan Emilia, 2010:37-59).
1. Pertanyaan Penelitian
Mengingat penelitian kualitatif dianggap sebagai penelitian yang memfokuskan perhatiannya terhadap proses, selain produk, dan memberi penjelasan dengan sangat rinci maka penelitian kualitatif sering hanya menggunakan pertanyaan penelitian yang sifatnya menanyakan proses seperti ”Bagaimana…, dan Mengapa, …”. Pertanyaan penelitian yang sifatnya ”leading question” sering dihindari oleh peneliti dengan alasan bahwa leading question menjadi tidak populer karena dianggap kurang powerful padahal pertanyaan penelitian bisa berubah dan berkembang sejalan dengan proses penelitian.
2. Desain dan Metode Penelitian
Metode penelitian yang sering dipakai dalam penelitian kualitaif bisa tergolong pada paradigma pada paradigma penelitian empiris, interpretif, kritis, posmodernisme, dan postrukturalisme. Metode penelitian yang bisa dipakai terdiri atas beberapa macam, di antaranya studi kasus, etnografi, evaluasi program, action research, posfeminisme, posmodernisme, dan analisis teks.
Motode penelitian yang digunakan hendaknya digiring oleh teori yang dipakai dan penelitian sebelumnya mengenai bidang yang diteliti mengingat pustaka yang harus dilihat ada dua macam, yakni pustaka yang berkaitan dengan metodologi, yang disebut methodological literature dan pustaka yang berkaitan dengan definisi, kualitas, dan cakupan atau skop, yang disebut dengan topic literature. Apabila metode penelitian yang dipakai tidak tepat, atau tidak sesuai dengan metode penelitian yang digunakan oleh para ahli di bidang itu, peneliti akan sulit untuk menjustifikasi bahwa metode penelitian ini tepat dan akurat, seusai dengan apa yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang paling umum dipakai dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Pemilihan ketiga teknik pengumpulan data ini harus relevan dengan pertanyaan penelitian. Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang fundamental dan sangat penting dalam semua penelitian kualitatif. Dalam melaporkan observasi, penulis perlu menjelaskan beberapa hal, yaitu satuan analisis (apa atau siapa yang diobservasi), jenis observasi apa yang dipakai, manfaat atau kelemahan jenis observasi yang dipakai, berapa kali dan berapa lama observasi dilakukan, apa yang dilihat dalam observasi, bagaimana cara merekam data observasi, upaya yang dilakukan untuk mengurangi bias dalam proses observasi, perlu menghubungkan data observasi dengan sumber atau teknik data yang lain, satu teknik pengumpulan data untuk menjawab semua pertanyaan penelitian, kelemahan apa yang ada dalam proses observasi, dan masalah yang ada dalam implementasi program perlu juga disebutkan.
Wawancara memainkan peran yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan wawancara, yaitu jenis wawancara yang dipakai, siapa yang diwawancarai, apakah wawancara dilakukan perorangan atau kelompok, apa yang ditanyakan, data wawancara disimpan di aman, proses wawancara (direkamkah, tujuan, di mana, mengapa, apakah), penjelasan yang membuat yang diwawancarai merasa bebas, kelemahan proses wawancara, kesadaran bahwa wawancara mempunyai potensi bias, penjelasan apakah pertanyaan wawancara diujicobakan, dan penjelasan apakah peneliti mengembalikan hasi transkripsi kepada partisipan.
Dalam memaparkan langkah teknik analisis dokumen peneliti sering mengalami kegagalan dalam menernagkan beberapa hal, seperti tujuan dari analisis dokumen, apakah dokumen yang dianalisis cukup, apa yang dicari dari dokumen yang dianalisis, di mana data dari analisis dokumen disimpan di disertasi, dan apa makna dari data yang diperoleh dari dokumen.
4. Analisis Data
Masalah yang paling umum ditemukan dalam penelitian kualitatif adalah bahwa peneliti gagal untuk kembali kepada teori yang telah dipaparkan dalam kajian pustaka. Dengan demikian, peneliti tidak bisa mengambil kesimpulan apakah peneliti ini mendukung atau bertentangan dengan penelitian sebelumnya, apakah penelitian ini telah menghasilkan teori baru yang belum pernah ditemukan dalam penelitian sebelumnya untuk memperlihatakan kepada pembaca bagaimana penelitian menmperkokoh dasar pengetahuan. Banyak penulis yang belum bisa melakukan dialog dengan wacana lain berkenaan dengan penelitian yang dilakukannya.
Beberapa masalah khas dalam penelitian kualitatif, yaitu satuan analsisi (perorangn atau kelompok), kurangnya kesadaran peneliti bahwa analisis data kualitatif sebaiknya data dianalisis segera setelah data itu diperoleh, peneliti sering terpengaruh mitos bahwa menulis laporan penelitian dilakukan ketika semua data sudah terkumpul dan dianalisis, peneliti kurang sadar bahwa analisis data dalam penelitian kualitatif bersifat theory driven, peneliti tidak menjelaskan tahapan-tahapan dalam menganalisis data yang diperloleh dari setiap sumber data, kurangnya kesadaran para peneliti bahwa analisis data dalam pemilihan data yang dipaparkan tidak bersifat netral, tetapi sangat bergantung pada kreativitas, pengetahuan , dan kerja keras peneliti, ketika menginterpretasi data atau mengomentari data atau mencermati makna dari data yang diperoleh, peryataan seyogiyanya ditulis dengan hati-hati dengan menghindari kalimat yang bersifat menggeneralisasi.
III. Simpulan
Beberapa studi kasus dalam penelitian pendidikan bahasa dapat dikaji dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif pada aspek studi kasus penelitian pendidikan bahasa terdapat dalam keterampilan berbahasa, kebahasaan, dan sastra serta pembelajarannya. Karakteristik pembelejaran dengan metode kasus, yaitu menekankan pada analisis situasional, pentingnya menghubungkan antara analisis dan tindakan, perlunya keterlibatan mahasiswa, peran pengajar yang tidak tradisional, dan suatu keseimbangan antara sasaran-sasaran substansi dan proses pembelajaran.Tujuan yang dapat dicapai dari pembelajaran dengan menggunakan metode kasus adalah memungkinkan menggabungkan teori dan praktik dalam proses pembelajaran, memungkinkan mahasiswa belajar pengalaman dari tangan pertama dari pelaku kasusnya, memungkinkan mentransfer managerial wisdow ke dalam ruang kelas, memungkinkan mahasiswa mengembangkan sense of judgement mereka, memahami praktik pembelajaran sesungguhnya dengan cara yang efisien, meningkatkan komunikasi mahasiswa, melatih mahasiswa berpikir secara konstruktif, dan mendorong mahasiswa mempunyai kemampuan sintesa dan evaluasi. Adapun tujuan penelitian pendidikan/pengajaran bahasa, yaitu a. menemukan dan mengembangkan teori, model, atau strategi baru dalam pendidikan/pembelajaran bahasa; b. menerapkan, menguji, dan mengevaluasi kemampuan teori, model, strategi pendidikan/pengajaran bahasa dalam memecahkan masalah pendidikan/pembelajaran bahasa; c. mendeskripsikan dan menjelaskan keadaan atau hubungan berbagai isu atau pikiran yang terkait dengan masalah bahasa. d. memecahkan masalah pendidikan/pembelajaran bahasa; e. menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah pendidikan/pembelajaran bahasa; f. membuat keputusan atau kebijakan mengenai pendidikan/pembelajaran bahasa.
Daftar Pustaka
Ary, D. Jacobs. et.al.1977. Introduction to Reseach in Education. New York: Holt Rinehart and Winston.
Bogdan, R.C & Biklen, S.K. 1982. Methods of Social Research Boston: Allyn and Bacon, Inc.
Cresswell, J.W.1998. Research Design:Qualitative & Quantitative Approaches. London: SAGE Publicational.
Creswell, J.W. 1998. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing among Five Traditions. New Delhi: Sage Publications, Inc.
Creswell, J.W. 2008. Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. New Jersey: Pearson Merril Prentice Hall.
Denzin, N.K. and Lincoln, Y.S. 2009. Handbook of Qualitative Research. Terjemahan oleh Dariyatno dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fischer, Johann. et.al. 2008. LCaS: Language Case Studies Teacher Training Modules on the Use of Case Studies in Language Teaching at Secondary and University Level. Austria: Council of Europe Publishing.
Fraenkel, J.R & Wallen, N.E. 1993. How to Design Evaluate Reseach in Education. New Yoek: McGraw Hill.
Furchan, Arief, (Penerjemah). 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Guba, Egon G. & Lincoln, Yvonna S. 1981. Effective Evaluation. San Fransisco: Jossey-Bass Publishers.
Heigham, J. and Croker, R.A. 2009. Qualitative Research in Applied Linguistics A Practical Introduction. Great Britain: Palgrave MacMillan.
Kirk, J. & Miller, M.I. 1986. Reability and Validity in Qualitative Research, Vol.1, Beverly Hills: Sage Publication.
Lincoln, Yvonna S. & Guba, Egon G. 1985. Naturalistic Inquiry. California, Beverly Hills: Sage Publications.
McMillan, J. & Schumacer, S. 2001. Reseach in Education. New York: Longman.
Moleong, L. J. 2001. Metologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosydakarya.
Muhadjir, Noeng. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi IV. Yogyakarta: Rake Sarasin• Noeng Muhadjir. 2001. Filsafat Ilmu, Positivisme, Post Positivisme dan Post Modernisme. Edisi II. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Sayekti P. S. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif (Diktat). Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.
Stake, R.E. 1995. The Art of Case Study Research. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Surachmad, W. 1982. PengantarPenelitian. Bandung: Tarsito.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Remaja Rosdakarya
Syamsuddin A.R. & Damaianti, V.S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wiriaatmadja,Rochiati. 2007. Metode penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wahyono, H. 2009. Penelitian Studi Kasus. Tersedia: http://penelitianstudikasus.blogspot.com/
Yin, R.K. 2003. Case Study Research: Design and Methods (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar